Seputar Perang Dingin

Perang dingin itu berbeda dengan perang pada umumnya. Negara yang melakukan perang dingin saling adu kekuatan. Namun, kedua negara itu tidak melakukan penyerangan sama sekali. Kedua negara adu kekuatan dengan cara membuat senjata canggih.

Kedua negara itu juga melakukan penelitian dan misi ke ruang angkasa. Yap, perang dingin membuat kedua negara saling memamerkan teknologi dan kemampuan ilmuwan yang ada di negara mereka. Namun, setiap negara juga mengirimkan mata-mata, supaya mereka bisa meuat sesuatu yang lebih canggih dari negara lawannya.

Masalahnya, konflik Rusia-Ukraina tidak hanya pertarungan dua slot bet negara saja, melainkan lebih dari itu. Ukraina didukung penuh oleh North Atlantic Treaty Organization (NATO) yang pondasi kekuatan utamanya adalah AS. Sementara Rusia, meski tak ada aliansi yang mendukungnya, beberapa negara tercatat mendukung aksi Moskow, baik secara eksplisit atau tidak, seperti China dan India.

Barulah karena memiliki persamaan tujuan, ideologi, dan musuh yang sama, mereka membentuk aliansi yang dikenal Blok Poros. Blok Poros kemudian berperang melawan Inggris, Prancis, dan belakangan AS yang lantas membentuk Blok Sekutu.

Peluang itu terjadi karena di Asia ada Taiwan yang menjadi titik panas antara China dan AS. China menganggap Taiwan sebagai provinsinya, tetapi pulau itu sebaliknya. Meski belum mengakui kemerdekaan Taiwan, AS, merupakan pendukung utama Taipei. Di mana Washington sudah menyokong sejumlah hal untuk pulau ini termasuk militer.

Lalu, kemungkinan lain terjadi di Iran dan Korea Utara. Dan kawasan yang tak luput dari perang adalah Eropa yang menjadi titik panas antara Rusia dengan barat. Meski terfokus di beberapa titik, perang pada dasarnya berdampak luas di seluruh dunia. Artinya, perang harus dihindari. Diplomasi menjadi hal utama untuk mencegah terjadinya perang.

Pada Perang Dunia 2 lokasi pertempuran terfokus di Eropa dan Asia Pasifik. Ini terjadi karena di sanalah ketegangan bermula. Jerman dengan semangat lebensraum atau ruang untuk hidup berpandangan harus menguasai seluruh Eropa. Alhasil, mereka menyerang dan menaklukkan negara tetangganya.  Dan Jepang, catat Ari Subiakto dalam Kronik Perang Dunia 2 (2015), menyerang agresif terhadap negara-negara di Asia, termasuk Indonesia.

Быстрая навигация
×
×

Корзина